Memasarkan Diri (Personal Selling)


Sehebat apapun seseorang tanpa mampu memasarkan diri ke public maka tidak akan membawa dampak bagi masyarakat luas. Padahal, jika potensi yang kita miliki mampu kita pasarkan maka akan berpengaruh positif bagi kita pribadi dan orang lain secara luas.

Menurut Lembaga Manajemen Terapan TRUSTCO Jakarta, ada beberapa manfaat memasarkan diri, yaitu kebebasan untuk memilih pekerjaan, rasa percaya diri dan pengendalian diri yang baik, imbalan yang layak, banyak relasi, banyak yang membantu jika ada kesulitan, dan memungkinkan banyak peluang untuk dilakukan.

Ingat, memasarkan diri bukan berarti sombong tetapi penting untuk promosi potensi dan kemampuan yang kita miliki sehingga menarik orang lain untuk bekerjasama mengembangkan potensi tersebut.

Kesulitan seseorang untuk memasarkan diri umumnya terjadi karena beberapa hal, diantaranya tidak mengetahui kepentingannya, tidak mengetahui yang harus dijual, tidak memiliki produk unggulan (intelektual-red), tidak ada tekanan sehingga dia harus melakukan hal tersebut, tidak terbiasa menjual, tidak pernah tahu caranya, tidak baik lingkungannya, tidak memiliki waktu, dan takut ditolak.

Supaya anda pandai memasarkan diri maka harus melakukan beberapa proses, diantaranya pahami diri mengenai kemampuan dan prestasi luar biasa dan tulislah prestasi tersebut. Setelah itu, kemaslah potensi itu dengan cara menjabarkannya secara detil.

Langakh selanjutnya adalah menyusun strategi untuk mengatur tempat dan waktu yang tepat, barulah kemudian muncul citra diri kita menurut pendangan public berdasarkan apa yang kita tampilkan. Selamat mencoba semoga anda berhasil…. (Lembaga Manajemen Terapan, Trustco)

Teori Kecerdasan Majemuk


Pada 1904, menteri pendidikan Perancis meminta psikolog Alfred Binet dan sekelompok psiklog untuk mengembangkan alat untuk menentukan siswa mana yang ”berisiko” mengalami kegagalan, agar mereka dapat diberi perhatian khusus. Mereka membuahkan tes kecerdasan yang pertama hingga segera tersebar luas. Masyarakat jadi beranggapan ada hal yang disebut ”kecerdasan”, dan bahwa kecerdasan dapat diukur secara obyektif dan dapat dinyatakan dalam angka atau nilai ”IQ”.

Hampir delapan puluh tahun setelah dikembangkannya tes kecerdasan tersebut, psikolog Harvard, Howard Gardner mempersoalkan pengertian kecerdasan yang diyakini masyarakat itu. Dia mengatakan penafsiran kecerdasan di kebudayaan kita terlalu sempit. Sebagai gantinya, dalam bukunya Frames of Mind (Gardner, 1983) dia mengemukakan sekurang-kurangnya ada tujuh kecerdasan dasar. Belum lama berselang, dia menambahkan kecerdasan yang kedelapan dan membahas kemungkinan adanya keceradasan yang kesembilan (Gardner, 1999b).

Dengan teori kecerdasan Majemuk, Gardner berusaha memperluas lingkup potensi manusia melampaui batas nilai IQ. Dia mempertanyakan keabsahan penilaian kecerdasan individu melalui tes-tes yang dilakukan di luar lingkungan belajar alamiah dan yang dilakukan dengan memeinta seseorang melakukan tindakan terisolasi yang belum pernah ia lakukan sebelumnya dan mungkin, tidak akan pernah ia lakukan lagi. Sebagai gantinya, Gardner menyatakan bahwa kecerdasan lebih berkaitan dengan kapasitas: memecahkan masalah dan menciptakan produk di lingkungan yang kondusif dan alamiah.

Kecerdasan diibaratkan sebagai kumpulan program kemampuan yang ada di beragam bagian otak manusia. Semua program kemampuan tersebut saling berhubungan satu sama lain. Meskipun demikian ada beberapa kemampuan yang bisa bekerja sendiri. Kecerdasan itu seperti otot yang bisa berkembang kalau dilatih terus menerus.

Otak manusia sebenarnya lebih hebat dari komputer. Memori penyimpanannya tak terbatas dan kapasitasnya pun belum digunakan secara maksimal. Sebetulnya masih terbuka luas kemungkinan adanya kecerdasan lain di luar kecerdasan yang sudah kita kenal sekarang ini. Misteri kemampuan otak manusia yang ditunjukkan dengan kecerdasan masih belum terkuak sepenuhnya. Banyak misteri lain yang belum terungkap yang berhubungan dengan kemampuan otak.


Sejauh ini telah teridentifikasi ada sembilan jenis kecerdasan, yaitu :

1. Kecerdasan Bahasa

Kemampuan menggunakan kata dan bahasa secara efektif, baik secara lisan (misalnya: pendongeng, orator, politisi) maupun tertulis (misalnya: sastrawan, jurnalis, penulis, editor). Kecerdasan ini meliputi kemampuan memanipulasi tata bahasa, fonologi, semantik termasuk dimensi penggunaan praktis bahasa.

2. Kecerdasan Viso-Spasial

Kemampuan mempersepsi dunia spasial-visual (ruang-pandang) secara akurat (misalnya: pemburu, pramuka, pemandu) dan mentransformasikan persepsi dunia spasial-visual (misalnya: designer, arsitek, pelukis). Kecerdasan ini meliputi kepekaan pada warna, garis, bentuk dan ruang. Kecerdasan ini meliputi kemampuan membayangkan, mempresentasikan ide secara visual atau spasial.

3. Kecerdasan Matematik-Logis

Kemampuan menggunakan angka dengan baik (ahli matematika, akuntan, ahli statistik) dan melakukan penalaran yang benar (ilmuwan, programer komputer). Kecerdasan ini meliputi kepekaan pada pola dan hubungan logis, pernyataan dan dalil (jika-maka, sebab-akibat), fungsi logis dan abstraksi-abstraksi lain.

4. Kecerdasan Kinestetik-Jasmani

Keahlian menggunakan seluruh tubuh untuk mengekspresikan ide dan perasaan (misal: aktor, atlet, penari, pemain sirkus) dan ketrampilan menggunakan tangan untuk menciptakan atau mengubah sesuatu (Misal: perajin, pematung, mekanik, dokter bedah). Meliputi kemampuan fisi-spesifik, seperti koordinasi, keseimbangan, ketrampilam, kekuatan, kelenturan, dan kecepatan maupun kemampuan menerima rangsangan atau sentuhan.

5. Kecerdasan Intrapersonal

Kemampuan memahami diri-sendiri, kesadaran akan suasana hati, maksud, motivasi, temperamen dan keinginan, serta kemampuan berdisiplin diri dan menghargai diri (misal: motivator)

6. Kecerdasan Interpersonal

Kemampuan seseorang untuk memahami perasaan, suasana hati, keinginan dan temperamen orang lain. Kecerdasan ini meliputi kepekaan pada ekspresi wajah, suara, gerak-isyarat dan menanggapi secara efektif dan kemmapuan mempengaruhi orang lain untuk melakukan tindakan tertentu (misal: psikolog)

7. Kecerdasan Eksistensial-Spiritual

Merupakan kepekaan dan kemampuan untuk memahami keberadaan dirinya sendiri atau eksistensi dan relasinya dengan Sang Pencipta. Pemahaman dan pemaknaan terhadap kehidupan, terhadap tujuan hidup, kebaikan dan lain sebagainya merupakan bagian dari kecerdasan ini.

8. Kecerdasan Naturalis

Ketertarikan dengan alam sekitar, belajar tentang alam dan juga teliti dalam tanaman, binatang atau batuan dan sumber alam lainnya. Kepekaan terhadap fenomena alam seperti formasi awan, gunung-gunung dan kemampuan membedakan benda hidup dan tak hidup. (Misal: pencita alam, ahli meteorologi dan geofisika)

9. Kecerdasan Musikal

Kemampuan menangani bentuk-bentuk musikal dan suara, dengan cara mempersepsi (penikmat musik), membedakan (kritikus musik), menggubah (komposer) dan mengkepresikan (penyani, pemusik).

Sesungguhnya kita mempunyai banyak potensi tidak hanya pada satu bidang. Potensi-potensi tersebut bisa kita miliki semua, beberapa atau hanya satu saja.kembali ke halaman utama